PEKALONGAN, 20/07/2026 –
Himpunan Mahasiswa Program Studi Hukum Ekonomi Syariah (HMPS HES) UIN K.H.
Abdurrahman Wahid Pekalongan berkolaborasi dengan Radio Rasika 88.9 FM, membedah
Isu krisis energi dunia akibat konflik Iran dan Amerika, namun konflik
Iran-Amerika yang memicu krisis energi dunia itu sering dianggap isu krisis
energi dunia sering kali terdengar seperti menara gading yang jauh dari
kehidupan sehari-hari. Namun, kami melalui Podcast HEKSA mengubah topik berat
itu jadi obrolan santai yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Dipandu oleh
host Haikal Rafi Danis, podcast kali ini bertajuk "Kondisi Indonesia di
Tengah Krisis Energi Global: Mampukah Kita Bertahan?". Podcast ini
menghadirkan narasumber yang sangat kompeten yakni, Muhammad Yusrul Hana yang
merupakan seorang akademisi dan dosen di Jawa Tengah yang menguasai analisis
sejarah, sosial, dan hukum.
Hadir sebagai narasumber, Muhammad
Yusrul Hana, seorang akademisi sekaligus dosen perguruan tinggi di Jawa Tengah.
Dalam obrolan santai namun kritis tersebut, ia mengupas tuntas mata rantai
dampak konflik geopolitik di Timur Tengah—melibatkan Iran, Israel, dan Amerika
Serikat—yang ternyata memiliki efek domino yang terasa hingga ke tingkat
pedagang kecil di daerah. Bukan hanya mempengaruhi harga minyak, namun juga
memberikan dampak pada harga plastik.
Di awal perbincangan, Haikal Rafi
selaku host memantik obrolan mengenai penutupan Selat Hormuz akibat ketegangan
antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat yang sukses membuat harga minyak
mentah dunia meroket hingga menyentuh angka psikologis 100 USD per barel. Menanggapi
hal tersebut, Pak Yusrul Hana menjelaskan bahwa dalam dinamika konflik global
semacam ini (termasuk berkaca dari konflik Rusia-Ukraina sebelumnya), Amerika
Serikat dinilai sering kali diuntungkan secara ekonomi. Baik dari sisi
pengalihan suplai energi (seperti ekspor LNG ke Eropa) maupun peningkatan produksi
dan pasokan persenjataan ke wilayah konflik. Penutupan Selat Hormuz sebagai
jalur vital distribusi minyak dunia memang sempat melambungkan harga minyak
mentah global. Indonesia masih bisa bertahan karena struktur energi kelistrikan
nasional didominasi oleh batu bara dan gas, bukan minyak bumi. Pemerintah pun
masih menahan harga BBM subsidi agar tidak terjadi inflasi besar-besaran. Namun
dampak paling nyata justru menghantam sektor hilir, yakni melonjaknya harga
bahan baku plastik.
"Tetapi yang berdampak
sekarang yang paling sangat terasa itu adalah plastik. Plastik tuh, harga es
teh loh Pak yang pinggir jalan itu naik, naiknya cuman gara-gara plastik.
Bahkan saya lihat konten di TikTok misal ada penjual telur gulung dari
Pekalongan, ada anak yang beli Rp1.000 itu enggak dikasih plastik gitu loh.
'Kalau beli Rp1.000 tak kasih plastik aku rugi noh' kan gitu. Maksudnya plastik
itu kan naiknya 40 sampai 70% tuh. Nah itu yang paling terdampak di UMKM itu di
plastiknya, karena bahan bakunya kita masih impor," ujar Yusrul.
Melihat fenomena jeritan pelaku
UMKM tersebut, Pak Yusrul menantang dunia akademis—termasuk kampus UIN
Gusdur—untuk menciptakan solusi konkret berupa riset energi terbarukan, seperti
plastik alternatif berbahan singkong atau daun. Ia juga mendorong pemerintah
daerah untuk melahirkan Peraturan Daerah (Perda) mengenai pembatasan penggunaan
plastik sekali pakai demi menjaga stabilitas ekonomi pelaku usaha sekaligus
mengatasi masalah sampah di Pekalongan.
Efek kejut dari krisis global ini ternyata
tidak hanya memukul sektor UMKM, krisis geopolitik ini juga memberikan sentimen
negatif yang hebat pada sektor finansial dan investasi di Indonesia, salah
satunya pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pak Yusrul turut menceritakan
bagaimana portofolio sahamnya ikut memerah akibat sentimen perang.
"Setelah perang berkecamuk,
IHSG anjlok kemarin sampai ke 6.900 dari yang tadinya 8.800, jadi sekarang
volatil dan dinamis sekali. Karena perang, investor-investor asing yang masuk
ke IHSG itu mundur semuanya, menarik datanya. Kemudian saham jadi turun karena
kita memang masih sangat bergantung dengan investor asing," jelasnya.
Ketidakpastian geopolitik global
ini juga membuat komoditas seperti emas bergerak sangat liar dan volatil.
Menutup sesi podcast, Pak Yusrul memberikan nasihat berharga kepada generasi
muda dan masyarakat awam agar tidak terjebak fenomena FOMO (Fear of
Missing Out) atau sekadar ikut-ikutan tren pasar saat harga emas sedang
melonjak tinggi.
"Yang penting kita sebagai generasi
muda dan juga masyarakat awam gitu kan, ketika membeli emas itu jangan fomo
gitu ya. Biasanya kita kan orang sekarang fomo-fomo gitu kan... 'Wah lagi
tinggi nih kita beli, nanti ketika semakin tinggi kita jual', ya tidak semudah
itu gitu kan... Harapan saya teman-teman dan masyarakat ini bisa lebih selektif
ya, lebih selektif lagi. Boleh investasi ke emas tapi harus jangkanya panjang.
Misalnya saya nih investasi emas batangan ya nanti untuk anak sekolah misalnya
kayak gitu, atau nanti teman-teman mahasiswa investasi emas untuk menikah
misalnya," himbau Yusrul.
Melalui tayangan podcast ini, HMPS
HES UIN Gusdur berharap dapat membuka cakrawala berpikir mahasiswa dan
masyarakat agar lebih melek terhadap isu geopolitik dunia, serta lebih bijak
dalam mengelola keuangan dan konsumsi energi di tengah ketidakpastian global.
Diskusi seru dan lengkap antara
Haikal Rafi Danis dan Pak Yusrul Hana ini dapat ditonton kembali melalui kanal
YouTube resmi HMPS HES UIN GUSDUR PEKALONGAN atau klik tautan berikut: https://youtu.be/hWgPxJnNyAU?si=IGoP3yJdvcHmjz_Z .